Showing posts with label SEREALIA. Show all posts
Showing posts with label SEREALIA. Show all posts

Tuesday, 8 April 2014

TEKNOLOGI PRODUKSI KACANG HIJAU

PENDAHULUAN
Kacang hijau (Vigna radiata) umumnya ditanam di lahan sawah pada musim kemarau setelah padi atau tanaman palawija yang lain. Di tingkat petani, rata-rata produktivitas baru mencapai 0,9 ton/ha. Sedangkan dari hasil percobaan dapat mencapai 1,60 ton/ha. Rendahnya hasil kacang hijau di tingkat petani antara lain disebabkan oleh praktek budidaya yang kurang optimal. Untuk meningkatkan produktivitas tanaman diperlukan teknik budidaya yang tepat.

TEKNIK BUDIDAYA

1. Varietas
a. Semua varietas kacang hijau yang telah dilepas cocok ditanam di lahan sawah maupun tegal.
b. Varietas terbaru tahan penyakit embun tepung dan bercak daun seperti Sriti, Kenari, Perkutut, Murai, dan Kutilang dapat dianjurkan untuk ditanam di daerah endemik penyakit tersebut.
c. Kebutuhan benih sekitar 25–30 kg/ha dengan daya tumbuh 90%.
2. Penyiapan lahan
a. Pada lahan bekas padi, tidak perlu dilakukan pengolahan tanah (Tanpa Olah Tanah = TOT).
b. Tunggul padi perlu dipotong pendek dan jerami padi dibersihkan.
c. Apabila tanah becek, perlu dibuat saluran drainase dengan jarak 3–5 m.
d. Pada lahan bekas pertanaman palawija (jagung, kedelai, kacang tanah) perlu dilakukan:
e. Pembajakan sedalam 15–20 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan.
f. Saluran irigasi dibuat dengan jarak 3–5 m.


Penanaman
  1. Tanam dengan sistem tugal dengan 2–3 biji/lubang
  2. Untuk musim hujan, digunakan jarak tanam 40 cm x 15 cm sehingga populasinya sekitar 300–400 ribu tanaman per hektar
  3. Untuk musim kemarau digunakan jarak tanam 40 cm x 10 cm sehingga populasi sekitar 400–500 ribu tanaman per hektar
  4. Pada saat tanam, kelembaban tanah tidak boleh terlalu tinggi, karena hal ini akan menyebabkan biji busuk.
  5. Penyulaman dapat dilakukan sebelum tanaman berumur 7 hari.
Pemupukan
  • Di lahan sawah bekas padi yang subur, tanaman kacang hijau pada umumnya tidak perlu dipupuk maupun diberi bahan organik.
  • Untuk lahan yang kurang subur, tanaman dipupuk 45 kg Urea + 45–90 kg SP36 + 50 kg KCl/ha yang diberikan pada saat tanam secara larikan di sisi lubang tanam sepanjang barisan tanaman.
  • Bahan organik berupa pupuk kandang sebanyak 15–20 ton/ha dan abu dapur sangat baik untuk diaplikasikan sebagai penutup lubang tanam.
5. Penggunaan mulsa jerami
Jerami padi dapat diaplikasikan sebagai mulsa, dengan takaran 5 t jerami padi/ha. Penggunaan mulsa dapat menekan serangan lalat bibit, pertumbuhan gulma dan penguapan air.

6. Penyiangan gulma
  • Penyiangan gulma dilakukan dua kali yakni pada saat tanaman berumur 2 dan 4 minggu.
  • Pada daerah yang sukar mendapatkan tenaga kerja, dapat digunakan herbisida pra-tumbuh non-selektif seperti Lasso, Paraquat, Dowpon, dan Goal dengan takaran 1–2 liter per hektar, yang diaplikasikan 3–4 hari sebelum tanam.
7. Pengairan
Periode kritis kacang hijau terhadap kekurangan air adalah pada periode menjelang berbunga (umur 25 hari) dan peng­isian polong (45–50 hari), sehingga tanaman tidak boleh kekurangan air pada periode tersebut.
  • Untuk kacang hijau yang ditanam di tanah bertekstur ringan (berpasir), umumnya pengairan perlu dilakukan dua kali, yakni pada umur 21 dan 38 hari. Sedangkan untuk pertanaman di tanah bertekstur berat (lempung), biasanya hanya diperlukan pengairan satu kali.
  • Apabila diperkirakan tanaman tidak akan kekeringan pada periode kritis tersebut, pengairan tidak perlu dilakukan.
8. Pengendalian hama
  • Hama utama adalah lalat kacang Ophyomia phaseoli, ulat jengkal Plusia chalcites, kepik hijau Nezara viridula, kepik coklat Riptortus linearis, penggerek polong Maruca testutalis, Etiella zinckenella dan kutu Thrips.
  • Pengendalian hama dapat dilakukan dengan insektisida, seperti: Confidor, Regent, Curacron, Atabron, Furadan, atau Pegassus dengan dosis 2–3 ml/l air dan volume semprot 500–600 l/ha.
  • Di daerah endemik lalat bibit Ophyomia phaseoli, benih yang akan ditanam perlu diberi perlakuan dengan insektisida Carbosulfan (10 g/kg benih) atau Fipronil (5 cc/kg benih).
  • Pertanaman musim kemarau II (Juni–Juli) rawan serangan hama thrips. Pengendalian dapat dilakukan dengan insektisida Confidon dan Reagent 50 SC.
9. Pengendalian penyakit
  • Penyakit utama adalah bercak daun Cercospora canescens, busuk batang, embun tepung Erysiphe polygoni dan penyakit puru Elsinoe glycines.
  • Pengendalian dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida seperti: Benlate, Dithane M-45, Baycor, Delsene MX 200 atau Daconil pada awal serangan dengan takaran 2 gram per liter air.
  • Penyakit embun tepung Erysiphe polygoni sangat efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diaplikasikan pada umur 4 dan 6 minggu.
  • Penyakit bercak daun efektif dikendalikan dengan fungisida hexakonazol yang diaplikasikan pada umur 4, 5 dan 6 minggu.
10. Panen dan pascapanen
  • Panen dilakukan apabila polong sudah berwarna hitam atau coklat.
  • Panen dengan cara dipetik dan polong segera dijemur selama 2–3 hari hingga kulit mudah terbuka dan biji cukup keras.
  • Pembijian dilakukan dengan cara dipukul di dalam kantong plastik atau kain untuk menghindari kehilangan hasil.
  • Pembersihan biji dari kotoran dengan menggunakan nyiru dan biji dijemur lagi sampai kering simpan yaitu kadar air mencapai 8–10%.
VARIETAS UNGGUL
  • MURAI. Tipe determinit; produktivitas rata-rata 1,5 t/ha (rentang hasil 0,9– 2,5 t/ha); warna biji hijau kusam, ukuran biji besar (6 g/100 biji); tahan penyakit bercak daun Cerco­spora. Umur panen 63 hari.
  • PERKUTUT. Tipe determinit; produktivitas rata-rata 1,5 t/ha (rentang hasil 0,7–2,2 t/ha); warna biji hijau mengkilat; ukuran biji sedang (5 g/100 biji); tahan penyakit embun tepung dan agak tahan penyakit bercak daun. Umur panen 60 hari.
  • KUTILANG. tipe determinit; produktivitas rata¬rata mencapai 2,0 t/ha; biji berwarna hijau mengkilat; ukuran biji besar (6 g/100 biji); tahan penyakit embun tepung. Umur panen 6 0 – 67 hari Varietas Sampeong
  • KENARI. Tipe tegak, determinit. Produktivitas rata-rata 1,64 t/ha (rentang hasil 0,8–2,4 t/ha); warna biji hijau mengkilat, ukuran biji besar (6,7 g/100 biji); agak tahan penyakit bercak daun dan toleran penyakit karat. Umur panen 60– 65 hari. Varietas Kutilang
  • SAMPEONG. Hasil pemurnian varietas lokal Samsik dari Nusa Tenggara; ukuran biji sangat kecil (2,5–3,0 g/100 biji), sehingga sesuai untuk dibuat kecambah; produktivitas rata-rata 1,0 ton/ha. Umur panen 70–75 hari

Friday, 21 March 2014

JARAK TANAM LEGOWO

SISYEM JARAK TANAM LEGOWO PADI SAWAH

Salah satu komponen teknologi PTT (Pengelolaan Tanaman Terpadu) padi sawah yaitu dianjurkan untuk mengatur jarak tanaman dan populasi tanaman dengan menerapkan sistem tanam jajar legowo. Sistem tanam jajar legowo adalah sistem tanam dengan pengaturan jarak tanam tertentu sehingga pertanaman akan memiliki barisan tanaman yang diselingi oleh barisan kosong dimana jarak tanam pada barisan pinggir setengah kali jarak tanam antar barisan.

Keuntungan dan kelebihan dari penerapan sistem tanam jajar legowo bila dibanding dengan sistem tanam konvensional (tegel) diantaranya yaitu :

1. Adanya efek tanaman pinggir yang diharapkan memberikan produksi tinggi dan kualitas gabah yang lebih baik;

2. Meningkatkan jumlah populasi /rumpun tanaman per hektar;

3. Terdapat ruang kosong untuk pengaturan air, saluran pengumpulan keong atau mina padi

4. Meningkatkan tanaman menerima sinar matahari secara optimal yang berguna dalam proses fotosintesis.;

5. Pengendalian hama, penyakit dan gulma menjadi lebih mudah;

6. Dengan areal pertanaman yang lebih terbuka dapat menekan hama dan penyakit;

7. Penggunaan pupuk lebih berdaya guna.

Sistem tanam legowo adalah pola bertanam yang berselang-seling antara dua atau lebih (biasanya dua, tiga atau lebih) baris tanaman padi dan satu baris kosong. Baris tanaman (dua, tiga atau lebih) dan baris kosongnya (setengah lebar di kanan dan di kirinya) disebut satu unit legowo. Bila terdapat dua baris tanam per unit legowo maka disebut legowo 2:1, jika tiga baris tanam per unit legowo disebut legowo 3:1, dan jika empat baris tanam per unit legowo disebut legowo 4:1 dan seterusnya.

Dalam penerapan sistem jarak tanam legowo dikenal Sistem Legowo 2 : 1 , Sistem Legowo 3 : 1 dan Sistem Legowo 4 : 1 (tipe 1 dan tipe 2). Sedangkan jarak tanam yang digunakan tergantung dari tingkat kesuburan tanahnya yaitu jarak tanam (20 cm x 10 cm) x 40 cm atau (25 cm x 12,5 cm) x 50 cm. Sedangkan Legowo 4 : 1 tipe 1 berarti semua baris pada satu legowo mendapat sisipan, sebaliknya pada Legowo 4 : 1 tipe 2 hanya pada baris pinggir yaitu kiri dan kanan mendapat sisipan sedangkan 2 baris ditengahnya tidak mendapat sisipan.



Legowo 2:1

Penerapan Sistem jarak tanam legowo 2:1 dengan menggunakan jarak tanam 20 cm x 10 cm x 40 cm akan menghasilkan jumlah populasi tanaman kurang lebih 333.300 rumpun per hektar, sedangkan dengan menggunakan jarak tanam 25 cm x 12,5 cm x 50 cm akan menghasilkan jumlah populasi tanaman per ha kurang lebih 213.300 rumpun per hektar , serta akan meningkatkan populasi tanaman 33,31% dibanding pola tanam tegel (25x25) cm yang hanya 160.000 rumpun/ha. Dengan pola tanam ini, seluruh barisan tanaman akan mendapat tanaman sisipan (lihat gambar dibawah ini )





Legowo 3:1

Legowo 3 : 1 adalah setiap satu unit legowo terdapat tiga baris tanaman jika menggunakan jarak tanam 20 cm x 10 cm x 40 cm akan meningkatkan populasi tanaman menjadi ± 360.000 rumpun per hekatar, sedangkan dengan menggunakan jarak tanam 25 cm x 12,5 cm x 50 cm akan meningkatkan populasi tanaman sebanyak ± 230.400 rumpun per hektar





Legowo 4:1 Tipe 1

Sistem tanam legowo 4:1 tipe 1 merupakan pola tanam legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan. Bila digunakan jarak tanam 20 cm x 10 cm x 40 cm akan diperoleh populasi tanaman ± 400.000 rumpun/ha, sedangkan dengan jarak tanam 25 cm x12,5 cm x 50 cm populasi tanaman mencapai ± 256.000 rumpun/ha dengan peningkatan populasi sebesar 60% dibanding pola tegel (25x25) cm.
























Legowo 4 : 1 Tipe 2

Sistem tanam legowo 4:1 tipe 2 merupakan pola tanam dengan hanya memberikan tambahan tanaman sisipan pada kedua barisan tanaman pinggir. Bila menggunakan jarak tanam 20 cm x 10 cm x 40 cm akan diperoleh populasi tanaman ± 300.000 rumpun/hektar, sedangkan dengan jarak tanam 25 cm x12,5 cm x 50 cm akan diperoleh populasi tanaman ±192.000 rumpun/hektar dengan persentase peningkatan hanya sebesar ±20 % dibanding pola tegel (25x25) cm. Pola ini cocok diterapkan pada lokasi dengan tingkat kesuburan tanah yang tinggi. Meskipun penyerapan hara oleh tanaman lebih banyak, tetapi karena tanaman lebih kokoh sehingga mampu meminimalkan resiko kerebahan selama pertumbuhan.



Legowo 6 : 1

Sistem tanam legowo 6:1 merupakan pola tanam legowo dengan keseluruhan baris mendapat tanaman sisipan, pada satu set legowo terdapat 6 baris penuh. . Bila digunakan jarak tanam 20 cm x 10 cm x 40 cm akan diperoleh populasi tanaman ± 428.000 rumpun/ha, sedangkan dengan jarak tanam 25 cm x12,5 cm x 50 cm populasi tanaman mencapai ± 274.000 rumpun/ha.




















Wednesday, 19 March 2014

PENGAMBILAN UBINAN JARAK TANAM LEGOWO PADI SAWAH oleh Ir.Pangerang, MP (PPL Kab. Maros)

Pengambilan Ubinan

Metode pengambilan ubinan adalah cara memperkirakan hasil panen per satuan luas yang disebut dengan produktivitas. Satuan produktivitas biasanya dinyatakan dengan ton/ha atau kw/ha atau kg/ha. Salah satu caran untuk mengetahui tingkat produktivitas tanaman antara lain dapat dilakukan dengan panen ubinan. Ubinan dibuat agar dapat mewakili hasil hamparan. Oleh sebab itu diperlukan langkah-langkah sebagai berikut :
  1. Pilih pertanaman yang seragam dan dapat mewakili penampilan hamparan, baik dalam segi pertumbuhan, kepadatan tanaman, maupun kondisi pertanaman;
  2. Luas ubinan perlu ditetapkan dan disesuaikan dengan jarak tanan yang digunakan;
  3. Batas ubinan harus ditetapkan berada pada jarak antar tanaman (ruang kosong)
  4. Gunakan minimal dua set jajar legowo yang berdekatan atau dinyatakan sebagai lebar ubinan (l);
  5. Gunakan panjang baris tanaman legowo atau dinyatakan sebagai panjang ubinan (p);
  6. Luas ubinan = Panjang Ubinan (p) x Lebar Ubinan (l) dan dengan ketentuan bahwa Luas ubinan ≥ 6 m² dan tandai luasan yang akan diubin.
  7. Laksanakan panen pada luasan ubinan tersebut, rontokkan dan bersihkan gabah dari kotoran dan timbang (Gabah Kering Panen = GKP);
  8. Untuk mendapatkan data yang akurat lakukan pengambilan ubinan minimal 3 kali atau lebih ulangan

Secara Matematika Produktivitas dapat dirumuskan sebagai berikut:




       P =   10.000 (m² )  x Bhu (kg)
                Lu (m²)

P = Produktivitas yang dinyatakan dalam satuan (kg/ha atau kw/ha atau ton/ha)
Lu = Luas Ubinan dalam satuan m²
Bhu = Berat hasil ubinan dari Lu dalam satuan kg