Monday, 9 June 2014

TEKNOLOGI PRODUKSI UBI KAYU

Oleh : Ir. Pangerang, MP
(Penyuluh Pertanian Kabupaten Maros)



 
BAB I
 SYARAT PERTUMBUHAN UBI KAYU
A.    IKLIM
Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketelapohon antara 1.500-2.500 mm/tahun. Suhu udara minimal sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di bawah10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna. Kelembaban udara optimal antara 60-65%. Sinar matahari yang dibutuhkan sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

B.   MEDIA TANAM
Tanah yang paling sesuai untuk ubi kayuadalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlaluliat dan tidak terlalu porosserta kaya bahan organik. Tanah dengan strukturremah mempunyai tata udara yang baik, unsur haralebih mudah tersedia dan mudahdiolah. Untuk pertumbuhan yang lebihbaik, tanah harus subur dankaya bahan organik baik unsurmakro maupun mikronya.
            Jenis tanah yang sesuai adalah jenis aluviallatosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol. Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah diIndonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagisuburnya tanaman ketela pohon.
            Ketinggian tempat yang baik dan ideal antara 10-700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10-1.500 m dpl. dan dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

 
BAB II
TEKNOLOGI PRODUKSIUBI KAYU

A.   PEMBIBITAN
1.    Persyaratan Bibit
            Bibit yang baik untuk bertanam ubi kayu harus memenuhi syarat sebagai berikut yaitu berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan,harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam. Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurusdan tumbuh tunas-tunas baru.

2.    Penyiapan Bibit
Penyiapan bibit meliputi hal-hal sebagai berikut:
a)    Bibit berupa stek batang.
b)    Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.
c)    Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25-30 batang stek.
d)    Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman.

B.   PENGOLAHAN TANAH
1.    Persiapan
Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:
a.        Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan cairan pH tester.
b.        Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.
c.        Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanaman lainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang sejenis.
d.        Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume produksi diatur seminimal mungkin.

2.    Pembukaan dan Pembersihan Lahan
            Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor.
            Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

3.    Pembentukan Bedengan
Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

4.    Pengapuran
            Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

C.   PENANAMAN
1.     Penentuan Pola Tanam
Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm.
2.    Cara Penanaman
Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

D.    PEMELIHARAAN
1.      Penyulaman
Untuk bibit yang mati/abnormal segera dilakukan penyulaman, yakni dengan cara mencabut dan diganti dengan bibit yang baru/cadangan. Bibit atau tanaman muda yang mati harus diganti atau disulam. Pada umumnya petani maupun pengusaha mengganti tanaman yang mati dengan sisa bibit yang ada. Bibit sulaman yang baik seharusnya juga merupakan tanaman yang sehat dan tepat waktu untuk ditanam. Penyulaman dilakukan pada pagi hari atau sore hari, saat cuaca tidak terlalu panas. Waktu penyulaman adalah minggu pertama dan minggu kedua setelah penanaman. Saat penyulaman yang melewati minggu ketiga setelah penanaman mengakibatkan perbedaan pertumbuhan yang menyolok antara tanaman pertama dan tanaman sulaman.
2.    Penyiangan
            Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan. Penyiangan pertama dilakukan pada umur 3 minggusampai 1 bulan setelah tanam. Penyiangan ini dilakukan secara mekanis dengan menggunakan koret. Sedangkan penyiangan keduadilakukan pada umur 3 bulan setelahtanam dengan menggunakan herbisida. Penjarangan cabang dilakukan pada umur 1 bulan, denganjumlah cabang yang dipelihara adalah 2 cabang per tanaman
3.    Pembubunan
            Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan
4.    Perempelan/Pemangkasan
            Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/ pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.
E.    PEMUPUKAN
            Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133-200 kg; TSP=60-100 kg dan KCl=120-200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.

F.    PENGAIRAN DAN PENYIRAMAN
            Kondisi lahan ubi kayu dari awal tanam sampai umur + 4-5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

G.   PENGENDAALIAN  HAMA, PENYAKIT DAN GULMA
            Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

1.    Hama
  1. Uret (Xylenthropus) Ciri: berada dalam akar dari tanaman. Gejala: tanaman mati pada yg usia muda, karena akar batang dan umbi dirusak. Pengendalian: bersihkan sisa-sisa bahan organik pada saat tanam dan atau mencampur sevin pada saat pengolahan lahan.
  2. Tungau merah (Tetranychus bimaculatus) Ciri: menyerang pada permukaan bawah daun dengan menghisap cairan daun tersebut. Gejala: daun akan menjadi kering. Pengendalian: menanam varietas toleran dan menyemprotkan air yang banyak.
2.    Penyakit
  1. Bercak daun bakteri
Penyebab: Xanthomonasmanihotis atau Cassava Bacterial Blight/CBG . Gejala: bercak-bercak bersudut pada daun lalubergerak dan mengakibatkan pada daun kering danakhirnya mati. Pengendalian: menanam varietas yang tahan, memotong atau memusnahkanbagian tanaman yang sakit, melakukan pergiliran tanaman dan sanitasi kebun
  1. Layu bakteri (Pseudomonas solanacearum E.F. Smith) Ciri: hidup di daun, akar dan batang. Gejala: daun yang mendadak jadi layu seperti tersiram air panas. Akar, batang dan umbi langsung membusuk. Pengendalian: melakukan pergiliran tanaman, menanam varietas yang tahan seperti Adira 1, Adira 2 dan Muara, melakukan pencabutan dan pemusnahan tanaman yang sakit berat.
  2. Bercak daun coklat (Cercospora heningsii)
Penyebab: cendawanyang hidup di dalam daun. Gejala: daun bercak-bercak coklat, mengering, lubang-lubang bulat kecil dan jaringandaun mati. Pengendalian: melakukan pelebaran jarak tanam, penanaman varietas yang tahan, pemangkasan pada daun yang sakit serta melakukan sanitasi kebun.
  1. Bercak daun konsentris (Phoma phyllostica) Penyebab: cendawan yang hidup pada daun. Gejala: adanya bercak kecil dan titik-titik, terutama pada daun muda. Pengendalian: memperlebar jarak tanam, mengadakan sanitasi kebun dan memangkas bagian tanaman yang sakit .
3.    Gulma (tanamanpengganggu)
            Sistem penyiangan/pembersihan secara menyeluruh dan gulmanya dibakar/ dikubur dalam seperti yang dilakukan umumnya para petaniKetela pohon dapat menekan pertumbuhangulma. Namun demikian, gulmatetap tumbuh di parit/got danlubang penanaman. Khusus gulma darigolongan teki (Cyperus sp.) dapat di berantas dengancara manual dengan penyiangan yang dilakukan 2-3 kali permusim tanam. Penyiangan dilakukan sampaiakar tanaman tercabut. Secara kimiawi dengan penyemprotan herbisida seperti dari golongan2,4-D amin dan sulfonil urea. Penyemprotan harus dilakukan dengan hati-hati.
Sedangkan jenisgulma lainnya adalah rerumputan yang banyak ditemukan di lubang penanamanmaupun dalam got/parit.Jenis gulma rerumputan yang sering dijumpai yaitu jenis rumputbelulang (Eleusine indica), tuton (Echinochloa colona), rumput grintingan (Cynodon dactilon), rumput pahit (Paspalumdistichum), dan rumput sunduk gangsir(digitaria ciliaris).Pembasmian gulma dari golongan rerumputandilakukan dengan cara manual yaitu penyiangan dan penyemprotan herbisida berspektrum sempit misalnya Rumpas 120 EW dengan konsentrasi 1,0-1,5 ml/liter.

H.   PANEN
1.    Ciri danUmur Panen
            Ubi kayu dapat dipanenpada saat pertumbuhan daun bawah mulai berkurang.Warna daun mulai menguningdan banyak yang rontok. Umur panen tanaman ketela pohon telahmencapai 6-8 bulan untuk varietas Genjah dan 9-12 bulan untuk varietasDalam.
2.    Cara Panen
Ubi Kayu dipanen dengan cara mencabutbatangnya dan umbi yang tertinggal diambil dengan cangkul atau garputanah.
3.    Pengumpulan
Hasil panendikumpulkan di lokasi yang cukup strategis, aman dan mudah dijangkauoleh angkutan.

I.      PENANGANAN PASCA PANEN
1.    Penyortiran dan Penggolongan
            Pemilihan atau penyortiran umbi  sebenarnyadapat dilakukan pada saat pencabutanberlangsung. Akan tetapi penyortiranumbi dapat dilakukan setelah semua pohon dicabutdan ditampung dalam suatu tempat.Penyortiran dilakukan untuk memilih umbiyang berwarna bersih terlihat dari kulitumbi yang segarserta yang cacat terutama terlihat dari ukuran besarnyaumbi serta bercak hitam/garis-garispada daging umbi.
2.    Penyimpanan
Cara penyimpananhasil panen umbi dilakukan dengan carasebagai berikut:
a.    Buatlubang di dalam tanah untuktempat penyimpanan umbi segarketela pohon tersebut. Ukuran lubang disesuaikan dengan jumlah umbiyang akan disimpan.
b.    Alasidasar lubang dengan jerami ataudaun-daun, misalnya dengan daun nangkaatau daun ubi kayu itusendiri.
c.    Masukkanumbi secara tersusun dan teratursecara berlapis kemudian masing-masing lapisan tutup dengandaun-daunan segartersebut di atas atau jerami.
d.    Terakhirtimbun lubang berisi umbi tersebutsampai lubang permukaan tertutup berbentuk cembung, dan sistem penyimpananseperti ini cukup awet danmembuat umbi tetap segarseperti aslinya.
3.    Pengemasan dan Pengangkutan
Pengemasan umbi bertujuan untuk melindungi umbi dari kerusakan selama dalam pengangkutan. Untuk pasaran antar kota/ dalam negeri dikemas dan dimasukkan dalam karung-karung goni atau keranjang terbuat dari bambu agar tetap segar. Khusus untuk pemasaran antar pulau maupun diekspor, biasanya umbi ketela pohon ini dikemas dalam bentuk gaplek atau dijadikan tepung tapioka. Kemasan selanjutnya dapat disimpan dalam karton ataupun plastik-plastik dalam pelbagai ukuran, sesuai permintaan produsen.  Setelah dikemas umbi ketela pohon dalam bentuk segar maupun dalam bentuk gaplek ataupun tapioka diangkut dengan alat trasportasi baik tradisional maupun modern ke pihak konsumen, baik dalam maupun luar negeri


Monday, 19 May 2014

HAMA DAN PENYAKIT TANAMAN ANGGREK

Hama
1. Tungau/kutu perisai
a. Gejala: menempel pada pelepah daun; berwarna kemerahan jumlahnya banyak; bekas serangan berupa bercak hitam dan merusak daun.
b. Pengendalian: digosok dengan kapas dan air sabun; apabila serangan sudah parah, harus disemprot oleh insektisida dengan dosis 2 cc/liter.

2. Semut
a. Gejala: merusak akar dan tunas muda yang disebabkan oleh cendawan.
b. Pengendalian: pot direndam dalam air dan ciptakan lingkungan bersih di sekitar rak/sebaiknya pot digantung.

3. Belelang
a. Gejala: pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tak beraturan. Untuk jenis belalang berukuran kecil, perlu pengamatan cermat.
b. Pengendalian: segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak/yang sistematik; bila jumlahnya sedikit bisa langsung dimusnahkan/dibunuh.

4. Trips
a. Gejala: menempel pada buku-buku batang dan daun muda; menimbulkan bercak abu-abu dipermukaan daun dan merusak bunga hingga bentuk bunga tidak menarik.

b. Pengendalian: secara periodik dan teratur pot anggrek disemprot insektisida.
5. Kutu babi
a. Gejala: kerusakan yang ditimbulkan seperti akibat semut; tapi tidak menyerang tunas daun.
b. Pengendalian: perendaman dapat mengusir kutu babi dari pot anggrek.

6. Keong
a. Gejala: menyerang lembaran daun anggrek.
b. Pengendalian: dalam jumlah sedikit cukup diambil/dibunuh; bila jumlah banyak perlu memakai insektisida/dijebak dengan bubuk prusi.

7. Red Spinder
a. Gejala: bercak putih di bagian bawah daun; permukaan atas menjadi kuning dan lama kelamaan daun mati.
b. Pengendalian: bila sedikit cukup diambil dengan menggunakan isolatip lalu dibakar/menggosok daun dengan alkohol; apabila banyak maka perlu menggunakan insektisida dengan bahan aktif diazinon, dicofol.

8. Kumbang
a. Gejala: yang terserang akan berlubang-lubang khusus kumbang penggerek batang kerusakannya berupa lubang di tengah batang dan tidak nampak dari luar; Larvanya yang menetas dari telur merusak daun anggrek.

b. Pengendalian: menyemprotkan tanaman yang diserang dengan menggunakan insektisida sistemik secara rutin; bersihkan pot dari kepompong dan telur kumbang dengan jalan memindahkannya ke pot baru dan media tanam yang baru pula.

9. Ulat daun
a. Gejala: menyerang daun, kuncup bunga, tunas daun maupun bunga yang sedang mekar.
b. Pengendalian: kalau jumlahnya sedikit (2–5 ekor) dapat dibunuh dengan tangan; bila banyak dapat menggunakan insektisida sistemik; tanaman yang telah diserang sebaiknya dipisahkan dengan tanaman yang masih sehat.

10. Kepik

a. Gejala: menghisap cairan daun tanaman anggrek, sehingga menyebabkan bintik putih/kuning; tanaman yang diserang lama kelamaan akan gundul dan tidak berhijau daun lagi.
b. Pengendalian: semprotkan insektisida yang sama seperti untuk membasmi serangga lainnya, seperti ulat, kumbang dan trips.

11. Kutu tudung

a. Gejala: daun menjadi kuning, tidak sehat, lalu berwarna coklat dan mati.

b. Pengendalian: seperti halnya membasmi ulat kumbang dan trips.

Penyakit


1. Penyakit buluk :
a. Sering terdapat di dalam media tanam, kultur spora cendawan ini terbawa oleh biji anggrek karena tutup botol tidak steril.

b. Gejala: biji anggrek tidak mampu berkecambah dan persemaian dalam botol akan gagal; kecambah yang telah tumbuh kalau diserang cendawan ini akan mati/layu.

c. Pengendalian: pada awal serangan media agar dikeluarkan dari botol, lalu botol ditutup kembali, dilakukan dengan steriil; kalau kecambah anggrek terlanjur besar, segera dikeluarkan dari botol dan dicuci dengan fungisida lalu kecambah ditanam dalam pot.

2. Penyakit rebah kecambah :

a. Merupakan penyakit anggrek selama masih dalam persemaian. Penyebaran penyakit ini lewat air.

b. Gejala: semula berupa bercak kecil bening pada permukaan daun, lalu melebar, menulari ke atas sampai pada titik tumbuh pada tunas serta ke bawah hingga ujung akar, kecambah anggrek akan membusuk dan mati.

c. Pengendalian: bibit yang sakit sebaiknya segera dibuang, dibakar sampai musnah. Pot dan kumpulan kecambah dikeringkan dan disemprot dengan fungisida.

3. Penyakit bercak coklat

a. Kecambah jenis Phalae-nopsis sangat peka terhadap bakteri ini, terutama pada cuaca sangat lembab. Infeksi melalui daun basah atau di bekas luka pada daun. Sentuhan daun yang sakit pada daun sehat dapat menularkan penyakit ini.
b. Gejala: bercak kecil bening pada pucuk daun. Dalam beberapa hari dapat meluas ke seluruh kompot, daun kecambah anggrek menjadi rusak dan mati. Penyakit ini sangat ganas, karena mematikan dan cepat menular.

c. Pengendalian: sangat sulit penyakit ini pada awal serangan. Pada serangan yang parah, tidak ada jalan lain kecuali memusnahkan seluruh kecambah anggrek.

4. Penyakit bercak hitam

a. Pada tanaman anggrek yang, penyakit ini cepat menular malalui akar dan alat yang tidak sterill

b. Gejala: timbul warna coklat kehitaman pada bagian tanaman yang terserang. Mulai dari daun ke atas sampai ke tunas dan ke bawah hingga ujung akar. Tanaman terlambat tumbuh, kerdil dan mengakibatkan kematian.

c. Pengendalian: bagian yang terserang dipotong dan dibuang atau disemprotkan fungisida; alat-alat potong disiram alkohol/dibakar sebelum digunakan.

5. Penyakit busuk akar

a. Penyebab: cendawan Rhizoctonia Solani.

b. Gejala: akar leher membusuk mencapai rhizoma dan umbi batang, daun dan umbi batang menguning, berkeriput, tipis dan bengkok, tanaman kerdil dan tidak sehat.

c. Pengendalian: semua bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang; bekasnya disemprot dengan fungisida (Benlate).

6. Penyakit layu

a. Penyebab: cendawan Fusarium Oxyporium.

b. Gejala: mirip serangan penyakit busuk akar, namun pada rhizoma terdapat garis-garis, atau lingkaran berwarna ungu. Pada serangan berat, seluruh rizhoma menjadi ungu, diikuti pembusukan pada umbi batang, tanaman sangat tidak sehat.

c. Pengendalian: bagian yang terserang dibuang lalu bekasnya disemprotkan Benlate. Tanaman segera dipindahkan ke media tanam baru, yang masih segar dan bersih. Usahakan terdapat aliran udara yang lancar di sekitar tanaman.

7. Penyakit busuk

a. Penyebab: cendawan Sclerotium Rolfsi.
b. Gejala: terdapat bintil-bintil kecil berwarna coklat pada bagian tanaman yang terkena penyakit.

c. Pengendalian: bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang. Media tanaman dan seluruh pot didesinfektan dengan larutan formalin 4 % ataupun fungisida/antibiotik Natrippene 0,5 % selama 1 jam.

8. Penyakit bercak coklat

a. Gejala: bercak coklat pada permukaan daun, lalu menyebar keseluruh bagian tanaman.

b. Pengendalian: membuang semua bagian yang sakit, lalu semprotkan fungisida/ antibiotika Streptomycin atau Physan 20.

9. Penyakit busuk lunak

a. Penyebab: bakteri Erwinia Cartovora.

b. Gejala: daun dan akar membusuk serta berbau. Penyakit ini cepat sekali meluas namun khusus pada rhizoma dan umbi batang, penyebarannya agak lambat.

c. Penanggulangan: peralatan kebun harus steril, bagian yang sakit dipotong dan dibuang. Semprotkan Physan 20, pot tanaman disemprot dengan formalin 4 %.

10. Penyakit bercak bercincin

a. Penyebab: virus TMVO (Tobacco Mozaic Virus Odontoglos-sum).

b. Gejala: timbul lingkaran atau garis-garis kekuningan pada permukaan daun.

c. Pengendalian: hanya dengan pencegahan yakni membuang bagian tanaman yang sakit serta menstrerilkan semua alat potong.

11. Penyakit Cymbidium

a. Penyebab: virus Mozaic Cymbidium.

b. Gejala: semula berupa bercak kekuningan lalu muncul jaringan mati berbintik, bergaris atau lingkaran. Khusus pada Cattleya, bercak tadi berwarna coklat atau hitam cekung. Kadang ada gejala kematian jaringan di tengah daun yang dilingkari jaringan normal. Daun tua banyak sekali menunjukkan adanya bintik jaringan yang mati.

c. Pengendalian: hanya bersifat pencegahan yaitu membuang bagian tanaman yang sakit, serta mensterilkan segala alat yang dipakai.

12. Penyakit busuk hitam a

a. Penyebab: cendawan Phytopytora Omnivora.
b. Gejala: muncul warna kehitaman
pada pangkal daun, lalu melunak dan busuk, akhirnya daun mati.

c. Pengendalian: semprotkan fungisida seperti Baycor Dithane M-45, Benlate, Ferban, Physan, Truban atau Banrot. Untuk yang berbentuk tepung gunakan dosis 2 gram/2 liter air.

Saturday, 17 May 2014

(Down Load pdf) TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP PELAYANAN BADAN PELAKSANA PENYULUHAN DAN KETAHANAN PANGAN KABUPATEN MAROS

ABSTRAK

Ir. Pangerang, MP1 dan Abd. Rahman Nur, SP2. Tingkat Kepuasan Masyarakat terhadap Pelayanan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros.
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penilaian masyarakat terhadap kinerja pelayanan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros.

Populasi dari penelitian ini adalah orang, masyarakat, lembaga instansi pemerintah dan dunia usaha yang pernah menerima pelayanan publik dari Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Kabupaten Maros, dengan jumlah responden digunakan 155 orang. Penelitian ini menggunakan data primer yang bersumber dari masyarakat yang terpilih menjadi responden dengan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan data sekunder yang bersumber dari buku, arsip, dokumen, dan naskah dari instansi terkait.

Hasil perhitungan Nilai Indeks Unit Pelayanan yaitu sebesar 3,18 dan dikonversikan menjadi 79,44. dengan demikian menunjukkan bahwa tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros adalah Kinerja Unit Pelayanan Baik dan Mutu Pelayanan Baik.

Hasil penelitian diperoleh bahwa dari keempat belas unsur-unsur pelayanan, terdapat lima unsur yang dapat dikatakan dalam kategori sangat baik yaitu adalah: Prosedur pelayanan (3,28), Kejelasan petugas pelayanan (3,28), Kesopanan dan keramahan petugas (3,32), Kepastian biaya pelayanan (3,41), Keamanan pelanyanan (3,26).

Terdapat sembilan unsur pelayanan yang kategorinya baik yaitu Persyaratan pelayanan (3,12), Kedisiplinan petugas pelayanan(3,08), Tanggung jawab petugas pelayanan (3,12), Kemampuan petugas pelayanan (3,14), Kecepatan pelayanan(3,02), Keadilan mendapatkan pelayanan(3,15), Kewajaran biaya pelayanan (3,25), Kepastian jadwal pelayanan(3,10), Kenyamanan lingkungan(3,21),

Sistem pelayanan yang dilakukan oleh Badan Pelaksana Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Maros yang mendapatkan hasil penilaian masyarakat masuk kategori baik masih perlu ditingkatkan sedangkan hasil penilaian masyarakat masuk kategori sangat baik perlu dipertahankan.

Kata kunci : Kepuasan Masyarakat, Pelayanan Publik.

Untuk Artikel Selengkapnya Silahkan Down Load di SINI

(download pdf) ANALISIS LOCATION QUOTIENT (LQ) DALAM PENENTUAN KOMODITI UNGGULAN KECAMATAN DI KABUPATEN MAROS

ABSTRAK

Ir. Pangerang, MP. Analisis Location Quotient (LQ) dalam Penentuan Komoditi Unggulan Kecamatan di Kabupaten Maros. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan komoditi unggulan pada setiap kecamatan di Kabupaten Maros. Penelitian ini dilaksanakan di Kabupaten Maros dengan Metode analisis data yang digunakan adalah Analisis Location Quotient (LQ). 
Hasil penelitian Analisis Location Quotient (LQ) berdasarkan rata-rata produksi dan rata-rata luas panen lima tahun terakhir dari komoditi tanaman pada setiap Kecamatan di Kabupaten Maros menghasilkan komoditi unggulan yang terpilih didasarkan pada Nilai LQ >1 dengan tingkat keunggulan berdasarkan nilai LQ tertinggi pada masing-masing komoditi pada setiap kecamatan. Hasil penentuan komoditi unggulan dengan urutan nilai LQ tertinggi berdasarkan rata-rata produksi lima tahun terakhir sebagai berikut :
1). Kecamatan Mandai dengan komoditi unggulan terpilih: padi ladang (1,23),padi sawah (1,14); 2). Kecamatan Moncongloe dengan komoditi unggulan terpilih: ubi kayu (5,08), ubi jalar (2,24), jagung (1,63); 3). Kecamatan Maros Baru dengan komoditi unggulan terpilih; kacang hijau (14,60), padi sawah (1,18), ubi jalar (1,05); 4). Kecamatan Marusu dengan komoditi unggulan terpilih: ubi jalar (1,66), padi ladang (1,32), ubi kayu (1,17), padi sawah (1,05); 5).Kecamatan Turikale dengan komoditi unggulan terpilih: kacang hijau (2,68), padi sawah (1,26); 6). Kecamatan Lau dengan komoditi unggulan terpilih: kacang hijau (1,66), padi sawah (1,27); 7). Kecamatan Bontoa dengan komoditi unggulan terpilih: padi sawah (1,27); 8). Kecamatan Bantimurung dengan komoditi unggulan terpilih: padi sawah (1,26); 9). Kecamatan Simbang dengan komoditi unggulan terpilih: kedelai (3,31), padi sawah (1,16); 10). Kecamatan Tanralili dengan komoditi unggulan terpilih: ubi jalar (2,30), ubi kayu (2,16), jagung (1,42), kedelai (1,11), padi ladang (1,07); 11). Kecamatan Tompobulu dengan komoditi unggulan terpilih: padi ladang (4,52), jagung (3,85), kedelai (3,62), ubi kayu (1,71), kacang tanah (1,52) ,ubi jalar (1,43); 12). Kecamatan Camba dengan komoditi unggulan terpilih: kacang tanah (6,48), jagung (1,60), ubi jalar (1,56,) padi ladang (1,26),; 13). Kecamatan Cenrana dengan komoditi unggulan terpilih: kacang tanah (3,37), padi sawah (1.03); 14). Kecamatan Mallawa dengan komoditi unggulan terpilih: kacang tanah (2,22),ubi jalar (1,74), jagung(1,17), padi sawah (1.06).

Kata kunci: Location Quotient, Komoditi Unggulan, Kabupaten Maros

Untuk mendapatkan artikel lengkapnya silahkan download disini

(Download Pdf) Standarnisasi Penyusunan dan Penilaian Karya Tulis Ilmiah bagi Penyuluh Pertanian, Perikanan dan Kehutanan

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang 

Penyuluh pertanian, perikanan dan penyuluh kehutanan yang diduduki oleh Pengawai Negeri Sipil (PNS) adalah jabatan fungsional yang mempunyai ruang lingkup, tugas, tanggung jawab, dan wewenang untuk melakukan kegiatan penyuluhan yang diduduki oleh PNS dengan hak dan kewajiban yang diberikan secara penuh oleh pejabat yang berwenang dan wajib mengembangkan profesinya antara lain melalui kegiatan-kegiatan ilmiah seperti membuat karya tulis ilmiah.

Karya Tulis Ilmiah (KTI) merupakan salah satu unsur pengembangan profesi yang memperoleh apresiasi cukup tinggi. Apresiasi tersebut ditunjukkan dengan adanya klausul dari beberapa peraturan dari instansi terkait bahwa kenaikan pangkat pejabat fungsional penyuluh pertanian, perikanan dan penyuluh kehutanan jenjang madya dan utama wajib mengumpulkan minimal 12 (dua belas) angka kredit yang berasal dari pengembangan profesi dan atau Karya Tulis Ilmiah sebagai prasyarat untuk kenaikan pangkat setingkat lebih tinggi. 

untuk artikel lengkapnya silahkan download disini

Friday, 16 May 2014

 BUDIDAYA ANGGREK

Oleh : Ir. Pangerang, MP
(Penyuluh Pertanian Kabupaten Maros)

1. SEJARAH SINGKAT

Anggrek merupakan tanaman bunga hias berupa benalu yang bunganya indah. Anggrek sudah dikenal sejak 200 tahun lalu dan sejak 50 tahun terakhir mulai dibudidayakan secara luas di Indonesia. Manfaat utama tanaman ini adalah sebagai tanaman hias karena bunga anggrek mempunyai keindahan, baunya yang khas. Selain itu anggrek bermanfaat sebagai campuran ramuan obat-obatan, bahan minyak wangi/minyak rambut

2. JENIS TANAMAN


Tanaman anggrek dapat dibedakan berdasarkan sifat hidupnya, yaitu:

a) Anggrek Ephytis adalah jenis anggrek yang menupang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan yang ditumpangi. Alat yang dipakai untuk menempel adalah akarnya, sedangkan akar yang fungsinya untuk mencari makanan adalah akar udara.

b) Anggrek semi Ephytis adalah jenis anggrek yang menempel pada pohon/tanaman lain yang tidak merusak yang ditumpangi, hanya akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu untuk mencari makanan untuk berkembang.

c) Anggrek tanah/anggrek Terrestris adalah jenis anggrek yang hidup di atas tanah.




3. SYARAT PERTUMBUHAN

A. Iklim

a) Angin tidak dan curah hujan terlalu berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman anggrek.

b) Sinar matahari sangat dibutuhkan sekali bagi tanaman ini. Kebutuhan cahaya berbeda-beda tergantung pada jenis tanaman anggrek.

c) Suhu minimum untuk pertumbuhan anggrek adalah 12,7 derajat C. Jika suhu udara malam berada di bawah 12,7 derajat C, maka daerah tersebut tidak dianjurkan untuk ditanam anggrek (di dataran tinggi Dieng).

d) Tanaman anggrek tidak cocok dalam suasana baus, akan tetapi menyukai kelembaban udara di siang hari 65-70 %.

B. Media Tanam

Terdapat 3 jenis media untuk tanaman anggrek, yaitu:

1) Media untuk anggrek Ephytis dan Semi Ephytis terdiri dari:
a. Serat Pakis yang telah digodok.
b. 2. Kulit kayu yang dibuang getahnya.
c. Serabut kelapa yang telah direndam air selama 2 minggu.
d. Ijuk.
e. Potongan batang pohon enau.
f. Arang kayu
g. Pecahan genting/batu bata.
h. Bahan-bahan dipotong menurut ukuran besar tanaman dan akarnya. Untuk anggrek Semi Epirit yang akarnya menempel pada media untuk mencari makanan, perlu diberi makanan tambahan seperti kompos, pupuk kandang/daun-daunan.

2) Media untuk anggrek Terrestria : Jenis anggrek ini hidup di tanah maka perlu ditambah pupuk kompos, sekam, pupuk kandang, darah binatang, serat pakis dan lainnya.

3) Media untuk anggrek semi Terrestria : Bahan untuk media anggrek ini perlu pecahan genteng yang agak besar, ditambah pupuk kandang sekam/serutan kayu. Dipakai media pecahan genting, serabut kayu, serat pakis dan lainnya. Derajat keasaman air tanah yang dipakai adalah 5,2.

C. Ketinggian Tempat

Ketinggian tempat yang cocok bagi budidaya tanaman ini dapat dibedakan menjadi 3 macam yaitu:

1) Anggrek panas (ketinggian 0-650 m dpl) : Anggrek panas memerlukan suhu udara 26-30 derajat C pada siang hari, 21 derajat C pada malam hari, dengan daerah ketinggian 0-650 meter dpl. Contoh jenis anggrek ini adalah:

a. Dendrobium phalaenopsis
b. Onchidium Papillo
c. Phaphilopedillum Bellatum

2) Anggrek sedang (ketinggian 150-1500 m dpl) : Anggrek sedang pada suhu udara siang hari 21 derajat C dan 15–21 derajat C,pada malam hari, dengan ketinggian 150-1500 m dpl.

3) Anggrek dingin (lebih dari 1500 m dpl) : Anggrek dingin jarang tumbuh di Indonesia, tumbuh baik pada suhu udara 15-21 derajat C di siang hari dan 9–15 derajat C pada malam hari, dengan ketinggian = 1500 m dpl. Contoh: anggrek jenis Cymbidium.

TEKNOLOGI BUDIDAYA

A. Pembibitan

1. Persyaratan Bibit : Bibit anggrek yang baik, sehat dan unggul mempunyai beberapa ciri, yaitu: bentuk batang kuat, pertumbuhan pesat, daun subur, bunga lebat dan indah.

2. Penyebaran Biji : Bibit anggrek berasal dari biji yang disemaikan. Adapun penyebaran biji anggrek sebagai berikut:

a) Peralatan yang digunakan untuk penyebaran biji harus bersih.

b) Mensterilkan biji : Sebelum biji disebar harus disterilkan dulu dengan 10 gram kaporit dilarutkan dalam 100 cc air kemudian saring kertas filter, dimasukkan ke dalam botol. Biji dimasukan dalam botol dan digojog 10 menit. (biji anggrek yang semula kuning kecoklatan berubah warna menjadi kehijauan). Kemudian air dibuang dan diganti dengan aquades, digojog berulang kali (2–3 kali).

c) Penyebaran biji anggrek : Botol-botol yang telah disterilkan dapat digunakan untuk menyebaran biji anggrek. Sebelum botol dibuka, leher botol dipanaskan di atas lampu spritus untuk menghilangkan kuman. Untuk memasukan biji anggrek ke dalam botol digunakan pipet yang dibersihkan dulu dengan cara pemanasan di atas lampu spritus sampai merah kemudian dicelup kedalam spritus. Botol yang telah terbuka kemudian diisi biji anggrek dan diratakan keseluruh permukaan alas makanan yang telah disediakan. Sebelum botol ditutup kita panaskan lagi di atas spritus kemudian ditutup kembali.

B. Teknik Penyemaian Benih :

1. Memeriksaan dengan mikroskop, baik atau tidaknya biji anggrek, yang kosong berwarna putih dan yang isi kuning coklat/warna lain.

2. Mempersiapkan botol yang bermulut lebar bersih dan tidak berwarna agar dapat meneruskan cahaya matahari yang dibutuhkan dan mudah dilihat.

3. Tutup botol dari kapas digulung-gulung sampai keras, ujung diikat tali untuk memudahkan dicopot kembali, atau kain sisa yang dipotong potong. Kerapatan tutup botol menjaga agar bakteri/jamur tidak masuk sehingga tidak terinfeksi atau terkontaminasi.

4. Mempersiapkan lemari kaca (ent-kas) yang bersih dari bakteri/jamur dengan kain yang sudah dicelup formalin udara dalam lemari disterilkan dengan kapas dipiring dituangi formalin supaya menguap mensterilkan kaca (ent-kas).

5. Pembuatan sterilsasi alas makanan dan untuk membuat alas makanan anggrek biasanya dipakai resep Khudson C (NORTHEN) 12 yaitu:

a) Ca(NO3)2H2O : 1,00 gram
b) KH2PO4 : 0,25 gram
c) MgSO47H2O : 0,25 gram
d) (NH4)2SO4 : 0,25 gram
e) Saccharose : 20 gram
f) FeSO4 4H2O : 0,25 gram
g) MnSO4 : 0,0075 gram
h) Agar-agar : 15–17,5 gram
i) Aquadest : 1000 cc

6. Pembuatan alas makanan diperlukan pH 5,2, dipergunakan pH meter/kertas pH tekstil/Indikator Paper. Sterilisasi dengan cara dipanaskan dalam Autoclaf yang sampai 110 derajat C selama setengah jam atau dengan dandang kemudian diletakan pada tempat bersih, dengan posisi miring, sehingga makanan setinggi 1/2–2/3 tinggi botol (dari alas sampai ke leher botol) dan didiamkan selama 5–7 jam untuk mengetahui sterilisasi yang sempurna.

C. Pemindahan Bibit :

1. Setelah tanaman di dalam botol berumur 9–12 bulan terlihat besar, tumbuh akar. Dalam tingkat ini bibit sudah dapat dipindahkan kedalam pot penyemaian yang berdiameter 7 cm, 12 cm atau 16 cm yang berlubang.

2. Siapkan pecahan genting, dan akar pakis warna coklat, di potong dengan panjang 5–30 mm sehingga serabutnya terlepas satu sama lainnya.

3. Sebelum dipakai terlebih dulu dicuci bersih dan biarkan airnya hilang. Akar pakis setelah dicuci, direndam dulu dalam alas makanan selama 24 jam yang berupa:

a. Urea atau ZA : 0,50 mg
b. DS, TS atau ES : 0,25 mg
c. Kalium sulfat atau K2SO4 : 0,25 mg
d. Air : 1000 cc
4. Alaternatif lain sebagai alas makanan, dapat juga dipakai pupuk buatan campuran unsur N, P, K perbandingan 60:30:10 atau dapat juga digunakan pupuk kandang yang telah dicampur pakis dengan perbandingan pakis: pupuk kandang = 4:1. Selain itu dapat digunakan kulit Pinus yang di potong kecil sebesar biji kacang tanah, yang telah direndam dalam alas makanan seperti akar pakis selama 24 jam.

5. Untuk isian pot ini dapat juga digunakan arang kayu bakar/serabut kelapa yang dipotong-potong sebesar ibu jari.

6. Pot yang disiapkan diisi dengan pecahan genting 1/3 tinggi pot/layah, kemudian isi remukan pakis tersebut setinggi 1 cm di bawah tepi pot/layah (tidak perlu dipadatkan).

7. Pemindahan bibit ke dalam pot dilakukan dengan mengeluarkan tanaman di botol dengan memasukkan air bersih ke dalam botol.

8. Dengan kawat bersih berujung seperti huruf U, tanaman dikeluarkan satu persatu (akar lebih dahulu). Setelah keluar tanaman dicuci kaporit 1 % kemudian dengan air bersih. Seedlings (semaian) ditanam dalam pot dengan rapat.

9. Apabila di dalam botol sudah terjadi kontaminasi jamur sebaik lebih dulu direndam di dalam antibiotic (penicillin, streptomycin yang telah lewat expirydatenya) 10 menit baru ditanam.

10. Setelah tanaman pada pot penyemaian cukup tinggi, maka tanaman dipindahkan ke pot biasa yang berdiamater 4–6 cm, yang berisi potongan genting/batu bata merah, kemudian beri pakis/kulit pinus yang telah direndam dalam alas makanan sampai 1 cm di bawah tepi pot.

D. Pengolahan Media Tanam

Media tanam untuk tanaman anggrek tanah dibedakan:

1. Tanaman dalam pot (dengan diameter 7-30 cm tergantung dari jenis tanaman). Apabila diameter pot dipilih 25-30 cm maka perlu dipasang tiang di tengah-tengah pot, kemudian pot diisi pecahan genting. Anggrek di letakkan di tengah dan akarnya disebar merata dalam pot, kemudian batang anggrek diikat pada tiang. Pot diisi pupuk kandang yang telah dicampur sesuai dengan komposisi kira-kira 2/3 dari pot.

2. Media tanam dalam tanah dengan sistim bak-bak tanam. Bak terbuat dari batu bata merah panjang 2 m lebar 40 cm dan tinggi bak 2 lapis batu bata merah. Pembuatan bak ini di atas tanah untuk menghindari dari kebecekan, di tanah kering digali sedalam 10-20 cm kemudian diberi bata ukuran 40 cm x 2 m dan jarak antara pembantas dengan yang lain 3 cm. Tiang penahan dibuat 4 buah yang ditancapkan ke dalam tanah dengan ketinggian masing-masing 1,5 m. Antara tiang satu dengan yang lain dihubungkan dengan kayu sehingga keempat tiang tersebut merupakan suatu rangkaian.

E. Teknik Penanaman

Penanaman tanaman anggrek, disesuaikan dengan sifat hidup tanaman anggrek, yaitu:

1. Anggrek Ephytis adalah anggrek yang menupang pada batang/pohon lain tetapi tidak merusak/merugikan yang ditumpangi atau ditempelin. Alat yang dipakai untuk menempel adalah akarnya, sedangkan akar yang fungsinya untuk mencari makanan adalah akar udara.

2. Anggrek semi Ephytis adalah jenis anggrek yang menempel pada pohon/tanaman lain yang tidak merusak yang ditempel, hanya akar lekatnya juga berfungsi seperti akar udara yaitu untuk mencari makanan untuk berkembang.

3. Anggrek tanah/anggrek Terrestris

F. Pemeliharaan Tanaman

1. Penjarangan dan Penyulaman

Penjarangan dan penyulaman dilakukan pada tempat yang disesuaikan dengan jenis anggrek, yang sifatnya epphytis atau anggrek tanah.

2. Penyiangan

Untuk tanaman anggrek pada penyiangan pada waktu pada kondisi di dalam botol kemudian dipisahkan ke dalam pot-pot yang sudah disediakan sesuai jenis anggrek.

3. Pemupukan

Unsur makro yaitu unsur yang diperlukan dalam jumlah besar yang meliputi: C, H, O, N, S, P, K, Ca, Mg. Untuk unsur mikro yaitu unsur yang dibutuhkan dalam jumlah yang sedikit, antara lain: Cu, Zn, Mo, Mn, V, Sc, B, Si, dst. Unsur makro dan unsur mikro dapat diambil dari udara atau dari tanah, berupa gas atau air dan garam-garam yang terlarut di dalamnya. Pemupukan pada tanaman anggrek dibagi dalam 3 tahapan, yaitu:

a. Pemupukan untuk bibit (seedlings) dengan N, P, K. Perbandingan N:P:K=6:3:1. Unsur N lebih banyak dibutuhkan untuk pembentukan pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Unsur N diambil dari pupuk ZA/urea, untuk P dipakai pupuk ES; DS; TS, dan K dari Kalium Sulfat (K2SO4). Pupuk-pupuk buatan yang mengandung N, P, K:

1) Urea : 0,6 gram untuk 1 liter air
2) ES : 0,3 gram untuk 1 liter air
3) ZK : 0,1 gram untuk 1 liter air

b. Pemupukan untuk ukuran sedang (mid-size) dengan N, P, K. Perbandingan N:P:K=3:3:3 yang sama banyak disini tidak memerlukan tambahan pupuk, maka dapat dususun sendiri pupuk yang mengandung N, P, K dengan cara misalnya :

1) Urea : 0,3 gram untuk 1 liter air
2) DS : 0,3 gram untuk 1 liter air
3) K2SO4 : 0,3 gram untuk 1 liter air

c. Pemupukan untuk ukuran berbunga (flowerings-size) :

Tanaman yang sudah berbunga dipupuk dengan perbandingan N:P:K= 1:6:1. Teknik pemberian pupuk buatan adalah:

1) Dalam bentuk padat/powder yang dilakukan dengan menaburkan secara hati-hati, jangan tersangkut pada daun/batangnya yang menyebabkan daun/batang tadi dapat terbakar.

2) Disiramkan, yang mana anggrek dapat menyerap air dan garam-garam yang terlarut di dalamnya. Cara ini banyak dilakukan dimana-mana.

3) Penyemprotan, cara ini sangat baik apabila terjadi pembusukan akar didalamnya, maka akarnya ditutup plastik.Pupuk kandang yang sering digunakan adalah kotoran kuda, sapi, kerbau, kambing, ayam dan lain-lain. Kebaikan pemakaian pupuk kandang selain mengandung bermacam-macam unsur yang dibutuhkan oleh tanaman juga sangat membantu dalam penyimpanan air, apalagi pada musim kemarau. Keburukan dari pupuk kandang ini adalah di dalam kotoran banyak bateri yang mengandung jamur. Untuk itu dianjurkan disangan lebih dahulu untuk menghilangkan jamur/bakteri di dalamnya. Pemupukan tanaman lebih baik dilakukan pada waktu pagi-pagi atau pada sore hari sekitar pukul 5.00 sore.

4. Pengairan dan Penyiraman

Sumber air untuk penyiraman tanaman anggrek dapat berasal dari:

a. Air Ledeng, baik untuk menyiram karena jernih dan steril, tetapi pHnya tinggi maka perlu diturunkan dengan menambah suatu asam misalnya HCl. PH yang baik sekitar 5,6-6.

b. Air sumur, baik untuk menyiram karena banyak mengandung mineral dari tanah yang sangat dibutuhkan oleh tanaman. Air sumur di daerah kapur harus diperhatikan pHnya.

c. Air hujan, yang ditampung didalam tong-tong/bak sangat baik untuk menyiraman.

d. Air kali/air selokan, tetapi kita tidak tahu pasti apakah air itu mengandung jamur, bakteri/lumut yang bisa mengganggu anggrek/tidak. Kalau dilihat dari sudut isi makanan mungkin cukup baik. Hal perlu diperhatikan bagi petani anggrek adalah mengetahui sifat-sifat dari isian pot supaya bisa mengatur banyaknya air untuk menyiram. Adapun macam isian pot dan sifat diuraikan sebagai berkut:

1) Pecahan genting/pecahan batu merah, yang mana mudah menguapkan air dan sifat anggrek yang tidak begitu senang dengan air sehingga tidak mudah untuk lumutan. Untuk pecahan genting lebih kecil daya serapnya lebih banyak dan untuk siraman lebih sedikit.

2) Potongan sabut kelapa, pemakaian serabut kelapa lebih baik untuk digunakan di daerah panas karena menyimpan air, tetapi kalau penggunaan di daerah dingin tidak menguntungkan karena mudah busuk.

3) Remukan akar pakis yang hitam, keras dan baru tidak mudah untuk menyerap air, setelah beberapa bulan banyak menyerap air. Akar pakis yang coklat dan lunak lebih mudah menyerap dan menahan air.

4) Potongan kulit pakis, dimana media ini sukar sekali untuk penyerapan air, mudah terjadi penguapan. Jika potongannya besar, penyerapan kecil dan jika potongan kecil penyerapan air lebih banyak. Bagi tanaman yang sudah besar pedoman penyiramannya 3-7 hari sekali musim hujan dan 1-3 hari sekali pada musim hujan.

5. Waktu Penyemprotan Pestisida

Obat-obatan sebaiknya disemprotkan pada waktu pagi hari, lebih baik pada sore hari sekitar jam 5.00. Penyemprotan bagi tanaman anggrek sehat, dilakukan rutin kurang lebih 3 bulan sekali. Penyemprotan bagi tanaman anggrek terserang hama perlu dilakukan berulang-ulang 3 kali dengan jangka waktu tertentu (untuk kutu) daun seminggu sekali. Adapun jenis insektisida dan dosis yang digunakan untuk hama antara lain:

a. Orthene 75 SP dosis 5-10 gram/10 liter air untuk ulat pemakan daun
b. Bayrusil 250 EC dosis 2 cc/liter air untuk ulat pemakan daun
c. Malathion dosis 3 gram/liter air untuk ulat, kumbang, kutu
d. Kelthane dosis 2 gram/liter air, untuk kutu.
e. Metadeks dosis dibasahi air, dicampur dedak 6-8 cc/10 liter, untuk keong dan bekicot air
f. Falidol E.605 dosis dibasahi air, dicampur dedak 6-8 cc/10 liter, untuk keong dan bekicot air. Untuk hama bekicot ada 2 cara pengendaliannya yaitu:

1) Menyebarkan obat sekitar pot anggrek dengan mencampur antara obat Metadeks ke dedak halus di tambah air sedikit.

2) Membuat larutan 1 cc Dieldrin 50% 25 EP dicampur dengan 1 liter air atau 6–8 cc Folediol E 605 kedalam air 10 liter. Kemudian pot tanaman anggrek direndam dalam larutan tersebut selama beberapa waktu dan diulang satu minggu sekali.

HAMA DAN PENYAKIT

Hama

1. Tungau/kutu perisai

a. Gejala: menempel pada pelepah daun; berwarna kemerahan jumlahnya banyak; bekas serangan berupa bercak hitam dan merusak daun.
b. Pengendalian: digosok dengan kapas dan air sabun; apabila serangan sudah parah, harus disemprot oleh insektisida dengan dosis 2 cc/liter.

2. Semut

a. Gejala: merusak akar dan tunas muda yang disebabkan oleh cendawan.
b. Pengendalian: pot direndam dalam air dan ciptakan lingkungan bersih di sekitar rak/sebaiknya pot digantung.

3. Belelang

a. Gejala: pinggiran daun rusak dengan luka bergerigi tak beraturan. Untuk jenis belalang berukuran kecil, perlu pengamatan cermat.
b. Pengendalian: segera semprotkan insektisida yang bersifat racun kontak/yang sistematik; bila jumlahnya sedikit bisa langsung dimusnahkan/dibunuh.

4. Trips

a. Gejala: menempel pada buku-buku batang dan daun muda; menimbulkan bercak abu-abu dipermukaan daun dan merusak bunga hingga bentuk bunga tidak menarik.
b. Pengendalian: secara periodik dan teratur pot anggrek disemprot insektisida.

5. Kutu babi

a. Gejala: kerusakan yang ditimbulkan seperti akibat semut; tapi tidak menyerang tunas daun.
b. Pengendalian: perendaman dapat mengusir kutu babi dari pot anggrek.

6. Keong

a. Gejala: menyerang lembaran daun anggrek.
b. Pengendalian: dalam jumlah sedikit cukup diambil/dibunuh; bila jumlah banyak perlu memakai insektisida/dijebak dengan bubuk prusi.

7. Red Spinder

a. Gejala: bercak putih di bagian bawah daun; permukaan atas menjadi kuning dan lama kelamaan daun mati.
b. Pengendalian: bila sedikit cukup diambil dengan menggunakan isolatip lalu dibakar/menggosok daun dengan alkohol; apabila banyak maka perlu menggunakan insektisida dengan bahan aktif diazinon, dicofol.

8. Kumbang

a. Gejala: yang terserang akan berlubang-lubang khusus kumbang penggerek batang kerusakannya berupa lubang di tengah batang dan tidak nampak dari luar; Larvanya yang menetas dari telur merusak daun anggrek.

b. Pengendalian: menyemprotkan tanaman yang diserang dengan menggunakan insektisida sistemik secara rutin; bersihkan pot dari kepompong dan telur kumbang dengan jalan memindahkannya ke pot baru dan media tanam yang baru pula.

9. Ulat daun

a. Gejala: menyerang daun, kuncup bunga, tunas daun maupun bunga yang sedang mekar.

b. Pengendalian: kalau jumlahnya sedikit (2–5 ekor) dapat dibunuh dengan tangan; bila banyak dapat menggunakan insektisida sistemik; tanaman yang telah diserang sebaiknya dipisahkan dengan tanaman yang masih sehat.

10. Kepik

a. Gejala: menghisap cairan daun tanaman anggrek, sehingga menyebabkan bintik putih/kuning; tanaman yang diserang lama kelamaan akan gundul dan tidak berhijau daun lagi.

b. Pengendalian: semprotkan insektisida yang sama seperti untuk membasmi serangga lainnya, seperti ulat, kumbang dan trips.

11. Kutu tudung

a. Gejala: daun menjadi kuning, tidak sehat, lalu berwarna coklat dan mati.

b. Pengendalian: seperti halnya membasmi ulat kumbang dan trips.



Penyakit

1. Penyakit buluk :

a. Sering terdapat di dalam media tanam, kultur spora cendawan ini terbawa oleh biji anggrek karena tutup botol tidak steril.

b. Gejala: biji anggrek tidak mampu berkecambah dan persemaian dalam botol akan gagal; kecambah yang telah tumbuh kalau diserang cendawan ini akan mati/layu.

c. Pengendalian: pada awal serangan media agar dikeluarkan dari botol, lalu botol ditutup kembali, dilakukan dengan steriil; kalau kecambah anggrek terlanjur besar, segera dikeluarkan dari botol dan dicuci dengan fungisida lalu kecambah ditanam dalam pot.

2. Penyakit rebah kecambah :

a. Merupakan penyakit anggrek selama masih dalam persemaian. Penyebaran penyakit ini lewat air.

b. Gejala: semula berupa bercak kecil bening pada permukaan daun, lalu melebar, menulari ke atas sampai pada titik tumbuh pada tunas serta ke bawah hingga ujung akar, kecambah anggrek akan membusuk dan mati.

c. Pengendalian: bibit yang sakit sebaiknya segera dibuang, dibakar sampai musnah. Pot dan kumpulan kecambah dikeringkan dan disemprot dengan fungisida.

3. Penyakit bercak coklat

a. Kecambah jenis Phalae-nopsis sangat peka terhadap bakteri ini, terutama pada cuaca sangat lembab. Infeksi melalui daun basah atau di bekas luka pada daun. Sentuhan daun yang sakit pada daun sehat dapat menularkan penyakit ini.

b. Gejala: bercak kecil bening pada pucuk daun. Dalam beberapa hari dapat meluas ke seluruh kompot, daun kecambah anggrek menjadi rusak dan mati. Penyakit ini sangat ganas, karena mematikan dan cepat menular.

c. Pengendalian: sangat sulit penyakit ini pada awal serangan. Pada serangan yang parah, tidak ada jalan lain kecuali memusnahkan seluruh kecambah anggrek.

4. Penyakit bercak hitam

a. Pada tanaman anggrek yang, penyakit ini cepat menular malalui akar dan alat yang tidak sterill

b. Gejala: timbul warna coklat kehitaman pada bagian tanaman yang terserang. Mulai dari daun ke atas sampai ke tunas dan ke bawah hingga ujung akar. Tanaman terlambat tumbuh, kerdil dan mengakibatkan kematian.

c. Pengendalian: bagian yang terserang dipotong dan dibuang atau disemprotkan fungisida; alat-alat potong disiram alkohol/dibakar sebelum digunakan.

5. Penyakit busuk akar

a. Penyebab: cendawan Rhizoctonia Solani.

b. Gejala: akar leher membusuk mencapai rhizoma dan umbi batang, daun dan umbi batang menguning, berkeriput, tipis dan bengkok, tanaman kerdil dan tidak sehat.

c. Pengendalian: semua bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang; bekasnya disemprot dengan fungisida (Benlate).

6. Penyakit layu

a. Penyebab: cendawan Fusarium Oxyporium.

b. Gejala: mirip serangan penyakit busuk akar, namun pada rhizoma terdapat garis-garis, atau lingkaran berwarna ungu. Pada serangan berat, seluruh rizhoma menjadi ungu, diikuti pembusukan pada umbi batang, tanaman sangat tidak sehat.

c. Pengendalian: bagian yang terserang dibuang lalu bekasnya disemprotkan Benlate. Tanaman segera dipindahkan ke media tanam baru, yang masih segar dan bersih. Usahakan terdapat aliran udara yang lancar di sekitar tanaman.

7. Penyakit busuk

a. Penyebab: cendawan Sclerotium Rolfsi.

b. Gejala: terdapat bintil-bintil kecil berwarna coklat pada bagian tanaman yang terkena penyakit.

c. Pengendalian: bagian tanaman yang sakit dipotong dan dibuang. Media tanaman dan seluruh pot didesinfektan dengan larutan formalin 4 % ataupun fungisida/antibiotik Natrippene 0,5 % selama 1 jam.

8. Penyakit bercak coklat

a. Gejala: bercak coklat pada permukaan daun, lalu menyebar keseluruh bagian tanaman.

b. Pengendalian: membuang semua bagian yang sakit, lalu semprotkan fungisida/ antibiotika Streptomycin atau Physan 20.

9. Penyakit busuk lunak

a. Penyebab: bakteri Erwinia Cartovora.

b. Gejala: daun dan akar membusuk serta berbau. Penyakit ini cepat sekali meluas namun khusus pada rhizoma dan umbi batang, penyebarannya agak lambat.

c. Penanggulangan: peralatan kebun harus steril, bagian yang sakit dipotong dan dibuang. Semprotkan Physan 20, pot tanaman disemprot dengan formalin 4 %.

10. Penyakit bercak bercincin

a. Penyebab: virus TMVO (Tobacco Mozaic Virus Odontoglos-sum).

b. Gejala: timbul lingkaran atau garis-garis kekuningan pada permukaan daun.

c. Pengendalian: hanya dengan pencegahan yakni membuang bagian tanaman yang sakit serta menstrerilkan semua alat potong.

11. Penyakit Cymbidium

a. Penyebab: virus Mozaic Cymbidium.

b. Gejala: semula berupa bercak kekuningan lalu muncul jaringan mati berbintik, bergaris atau lingkaran. Khusus pada Cattleya, bercak tadi berwarna coklat atau hitam cekung. Kadang ada gejala kematian jaringan di tengah daun yang dilingkari jaringan normal. Daun tua banyak sekali menunjukkan adanya bintik jaringan yang mati.

c. Pengendalian: hanya bersifat pencegahan yaitu membuang bagian tanaman yang sakit, serta mensterilkan segala alat yang dipakai.

12. Penyakit busuk hitam a

a. Penyebab: cendawan Phytopytora Omnivora.

b. Gejala: muncul warna kehitaman
pada pangkal daun, lalu melunak dan busuk, akhirnya daun mati.

c. Pengendalian: semprotkan fungisida seperti Baycor Dithane M-45, Benlate, Ferban, Physan, Truban atau Banrot. Untuk yang berbentuk tepung gunakan dosis 2 gram/2 liter air.